Dari Objek Polarisasi Menuju Subjek Demokrasi: Suara Gen Z di Pemilu 2024
- Percee Magz

- Jan 26
- 2 min read

Pemilu 2024 di Indonesia diklaim menjadi salah satu pemilu terbesar di dunia dengan lebih dari 200 juta pemilih, didominasi generasi muda dimana lebih dari 68 juta adalah kaum milenial (1980-1994). Sebanyak 46 juta sisanya adalah Generasi Z (1995-2010) yang sebagian dari mereka adalah pemilih pemula. Tiga pasangan capres-cawapres yang bertarung adalah Anies Baswedan bersama Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto bersama Gibran Rakabuming, dan Ganjar Pranowo bersama Mahfud MD.
Jumlah yang masif ini menjadikan suara anak muda sebagai penentu penting arah demokrasi Indonesia. Namun, pemilu kali ini tidak lepas dari perdebatan mengenai politik dinasti, ketegangan antar pendukung, hingga maraknya disinformasi di media sosial.
Latar Belakang Pemilu 2024: Dinasti, Koalisi, dan Peran “Kingmaker”
Salah satu isu paling menonjol adalah putusan Mahkamah Konstitusi tahun 2023 yang membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka maju sebagai cawapres meski belum berusia 40 tahun. Keputusan ini dipandang sebagian masyarakat sebagai bentuk politik dinasti yang bertentangan dengan prinsip rule of law dalam Demokrasi Pancasila, yang menuntut kebenaran, keadilan, dan kepastian hukum, bukan hukum yang fleksibel mengikuti kepentingan kekuasaan.
Di saat yang sama, peta koalisi berubah cepat, dan peran Presiden Joko Widodo semakin menonjol sebagai figur “kingmaker”. Kondisi ini memperkuat anggapan bahwa proses politik 2024 tidak sepenuhnya dikendalikan melalui gagasan, melainkan tarik-menarik kepentingan elite.
Polarisasi dan Media Sosial
Media sosial menjadi arena utama kampanye politik. Kombinasi algoritma dan aktivitas buzzer menciptakan ruang digital yang semakin terpolarisasi. Masyarakat, terutama Gen Z sebagai pengguna aktif internet, mudah terjebak dalam konten yang menonjolkan citra, bukan substansi. Media sosial memaksa masyarakat untuk memilih kubu, yang seharusnya menjadi platform diskusi berubah menjadi arena sindir dan memberi label. Polarisasi digital ini menunjukan belum terwujudnya demokrasi kecerdasan, yaitu kemampuan masyarakat menggunakan rasionalitas, kecerdasan mengontrol emosi dan etika.
Meski begitu, terdapat juga konten-konten edukatif yang berusaha menarik kembali diskursus politik ke arah yang lebih sehat. Misalnya, musikal “Polarisasi” karya Andovi & Jovial Da Lopez (content creator bersaudara) yang mendorong anak muda memahami risiko terjebak konten manipulatif dan pentingnya literasi politik.
Menuju Demokrasi yang Lebih Substantif
Pemilu 2024 membuka kenyataan bahwa pelaksanaan Demokrasi Pancasila masih menghadapi tantangan. Hukum yang dianggap fleksibel, ruang publik yang berisi konflik, dan pemilih yang belum sepenuhnya siap menghadapi kompleksitas politik modern. Hal ini menjadi indikator bahwa demokrasi masih kerap dipahami sebagai prosedur administratif, bukan sebagai sistem nilai yang dijalankan secara konsisten.
Pemilu ini menjadi pengingat bahwa warga negara yang demokratis tidak cukup hanya hadir di TPS. Selama demokrasi dijalankan sebatas formalitas, masyarakat akan terus menjadi penonton dari dinamika politik yang berulang. Sudah saatnya Gen Z berhenti menjadi objek polarisasi yang digiring narasi, dan mulai tampil sebagai subjek demokrasi yang berani bersuara, berpikir kritis, serta menjunjung toleransi.
Referensi
(5 Sept 2023). Pemilu 2024: Pemilih muda, politik dinasti, dan potensi polarisasi - Sejumlah hal yang perlu Anda ketahui. BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-66531834.amp
Nursani, S.A. (22 Jun 2023). Polarisasi Politik adalah Saat Pandangan Masyarakat Terbelah, Dampaknya?. detikNews. https://news.detik.com/berita/d-6786714/polarisasi-politik-adalah-saat-pandangan-masyarakat-terbelah-dampaknya
Syaifullah, M. (13 Sept 2022). Rentan Berakibat Masyarakat Terpecah, Apa Itu Polarisasi Politik?. Tempo. https://www.tempo.co/politik/rentan-berakibat-masyarakat-terpecah-apa-itu-polarisasi-politik--291026
Haryanto, A. (12 Mar 2025). Apa Itu Buzzer Politik? Sejarah, Pola Rekrutmen, dan Strategi. Tirto. https://tirto.id/apa-itu-buzzer-politik-arti-strategi-sejarah-dan-pola-rekrutmen-gaaE
Yefri. (27 Sept 2024). Polarisasi Musikal (Rerun): Ketika AI, Politik, dan Dunia Maya Beradu di Panggung Teater. Tempo. https://event.tempo.co/read/1921518/polarisasi-musikal-rerun-ketika-ai-politik-dan-dunia-maya-beradu-di-panggung-teater
Penulis : Jonina Callista
Editor : Lourelia Lieviana
| Journal Is Me



Comments