top of page

KONTROVERSI NESSIE JUDGE DAN FOTO JUNKO FURUTA DALAM VIDEO KOLABORASI BERSAMA NCT DREAM

  • Writer: Percee Magz
    Percee Magz
  • Nov 30, 2025
  • 3 min read
image from : http://Popmama.com
image from : http://Popmama.com

Pada awal November 2025, seorang YouTuber Indonesia, Nessie Judge, menjadi sorotan dan menuai kecaman luas, bukan hanya dari netizen Indonesia, tetapi juga dari publik Jepang serta komunitas internasional. Kontroversi tersebut bermula dari sebuah video kolaborasi antara Nessie Judge dan grup K-Pop NCT DREAM yang dirilis untuk menyambut Halloween. Dalam video tersebut, terlihat adanya foto Junko Furuta, seorang korban tragedi kekerasan dan pembunuhan brutal pada tahun 1988, yang ditampilkan sebagai bagian dari dekorasi latar studio.

Video kolaborasi Halloween itu awalnya diunggah di kanal resmi milik Nessie Judge. Namun, tidak lama setelah dirilis, publik mulai menyoroti keberadaan foto Junko Furuta yang ditempel di dinding studio. Foto tersebut dianggap merepresentasikan tragedi nyata, bukan unsur fiksi atau sekadar elemen horor imajiner. Hal ini memunculkan anggapan bahwa penggunaan foto tersebut merupakan tindakan yang tidak sensitif dan tidak memiliki empati terhadap korban serta keluarganya.

Kecaman pun bermunculan di berbagai platform media sosial, terutama di X dan forum-forum internasional. Banyak pengguna internet, khususnya dari Jepang, menyatakan bahwa penampilan foto tersebut merupakan bentuk ketidakhormatan terhadap memori Junko Furuta. Tekanan dan kritik yang terus membesar akhirnya membuat Nessie Judge memutuskan untuk menghapus video itu dari kanal YouTube miliknya.

Pada 7 November 2025, Nessie Judge mengunggah sebuah video permintaan maaf secara resmi. Dalam pernyataannya, ia mengakui bahwa dirinya dan tim telah melakukan kesalahan besar dengan menggunakan foto Junko Furuta sebagai bagian dari dekorasi. Ia menyampaikan bahwa tindakan yang awalnya ia anggap sebagai bentuk penghormatan justru dinilai tidak peka dan menyakiti banyak pihak. Permintaan maaf tersebut ditujukan kepada korban, keluarga korban, penonton, pihak yang terlibat dalam kolaborasi, serta seluruh masyarakat yang merasa tersinggung atas kejadian tersebut. Nessie juga berjanji untuk lebih berhati-hati dan memperbaiki proses kreatifnya agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Junko Furuta bukanlah sosok fiksi, melainkan manusia nyata yang mengalami penderitaan luar biasa. Kasusnya dikenal sebagai salah satu tragedi kriminal paling memilukan dalam sejarah Jepang. Oleh karena itu, penggunaan foto korban dalam konten bertema hiburan, terlebih yang berkaitan dengan suasana Halloween, dinilai sangat tidak pantas dan melukai rasa kemanusiaan. Tindakan tersebut dianggap telah membuka kembali luka lama, tidak hanya bagi masyarakat Jepang, tetapi juga bagi penonton internasional yang memahami sensitivitas kasus tersebut.

Kontroversi ini turut menunjukkan bagaimana sebuah konten digital dapat dengan cepat menyebar lintas negara dan budaya, serta menimbulkan dampak yang luas. Selain mencoreng citra individu dan kanal yang bersangkutan, peristiwa ini juga menimbulkan perdebatan mengenai batas etika dalam pembuatan konten, terutama yang menyangkut korban kekerasan dan tragedi nyata. Sebagian netizen bahkan menyerukan agar kanal Nessie Judge ditutup, sementara sebagian lainnya memperdebatkan apakah permintaan maaf yang disampaikan sudah cukup.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kebebasan berkreasi harus selalu disertai rasa tanggung jawab dan empati. Di era digital, ketika konten dapat diakses oleh siapa pun di berbagai belahan dunia, kepekaan terhadap nilai kemanusiaan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Sebagai kreator dengan jangkauan internasional, tanggung jawab moral dan etika menjadi semakin besar. Peristiwa ini diharapkan dapat menjadi pelajaran penting bagi para pembuat konten agar selalu menjunjung tinggi rasa hormat terhadap korban dan penderitaan nyata manusia.

Referensi :

 

Penulis : Sylviana Hannyca Ho


Comments


bottom of page