Ku Ucapkan Selamat Pagi Untuk Malam Hari


di kota yang tidak pernah tidur
malam selalu tahu
cara menyembunyikan nama.
di antara lampu toko
yang belum dimatikan
dan jendela apartemen
yang satu per satu kehilangan cahaya,
kita berjalan tanpa perlu menjelaskan
mengapa tanganmu
terkadang terlalu dekat dengan tanganku.
di kota sebesar ini,
tidak ada yang benar-benar mengenal kita.
mungkin itu sebabnya
aku menyukainya.
di sini,
kita bisa menjadi dua orang asing
yang pulang terlalu larut,
berbagi satu payung
meski hujan sudah berhenti,
berdiri terlalu lama di halte
hanya karena tidak ada
yang ingin menjadi orang pertama
yang mengatakan,
“aku harus pulang.”
kau pernah bertanya
kenapa aku selalu memilih malam.
aku bilang,
karena lampu kota lebih indah
setelah semuanya gelap.
padahal bukan itu.
aku hanya suka bagaimana
malam membuat kita
tidak perlu berpura-pura.
tidak ada tetangga yang bertanya.
tidak ada keluarga yang menunggu.
tidak ada nama yang harus kami sebut
ketika seseorang bertanya
siapa yang sedang berjalan bersamaku.
hanya kau.
dan aku.
dua bayangan
yang sesekali bersentuhan
di trotoar basah,
lalu kembali terpisah
ketika lampu berubah hijau.
barangkali cinta memang begitu
di kota besar.
bukan tentang menemukan seseorang
yang bisa tinggal selamanya,
melainkan menemukan satu malam
di mana kau tidak perlu takut
menjadi dirimu sendiri.
pagi akhirnya datang.
kereta pertama berjalan.
toko-toko membuka pintunya.
orang-orang kembali mengenakan
nama yang diberikan kepada mereka.
kau merapikan rambutmu,
aku membenarkan kerah bajuku.
lalu kita berjalan ke arah berbeda.
tidak ada pelukan.
tidak ada janji
tidak ada kata-kata yang cukup berani
untuk dibawa sampai siang.
hanya senyum kecil
yang mungkin tidak berarti apa-apa
bagi siapa pun.
tapi aku tahu.
semalam,
di kota yang tidak pernah tidur,
aku pernah menjadi rumahmu.
dan untuk beberapa jam saja,
kau menjadi rumahku.
(Writer - Mariyo Sadewo)



Comments