top of page

The Last Meeting

Writer: Percee Magz
Percee Magz
Sep 11
3 min read

Halo, Biemers! Pernah nggak sih ngerasa ada orang yang tiba-tiba menghilang dari hidup kita? Bukan meninggal, bukan juga musuhan, tapi ya... dia cuma hilang aja gitu. Nggak ada chat lagi, nggak pernah papasan lagi, padahal dulu kalian deket banget. Nah, kalau kalian pernah ngalamin hal semacam ini, kalian nggak sendirian, Biemers. Fenomena ini lagi rame banget dibahas di TikTok dan punya nama sendiri: The Last Meeting Theory.

Sebenarnya Apa Sih The Last Meeting Theory Itu?

Jadi gini, Biemers. Teori ini bilang kalau setiap orang yang masuk ke hidup kita itu punya "misi" tersendiri. Entah itu buat ngajarin sesuatu, nemenin kita ngelewatin fase tertentu, atau sekadar berbagi momen yang berkesan. Nah, begitu misi itu udah kelar, semesta (atau takdir, terserah kalian mau nyebutnya apa) bakal diam-diam ngatur supaya kalian nggak akan ketemu orang itu lagi. Nggak ada drama perpisahan, nggak ada penjelasan, orangnya cuma... menghilang aja dari radar.

Yang bikin creepy, kadang orang itu masih tinggal di kota yang sama, punya circle pertemanan yang sama, tapi entah kenapa kalian nggak pernah papasan lagi. Serem tapi relate banget, kan?

Kok Bisa Viral Banget di TikTok?

Teori ini banyak diketahui oleh orang-orang karena banyak yang share pengalaman "pertemuan terakhir" versi mereka masing-masing di kolom komentar dan video. Mulai dari sahabat lama yang dulu selalu bareng terus, mantan yang lenyap tanpa jejak, sampai kenalan random yang cuma ketemu sekali tapi ninggalin kesan mendalam. Banyak yang komen "lah kok ini kejadian sama gue juga?!" dan dari situ terbentuklah semacam pengalaman kolektif yang bikin teori ini terasa semakin nyata buat banyak orang.

Kenapa relatable banget? Karena teori ini nyentuh hal-hal yang emosional banget yaitu tentang soal closure, takdir, dan proses melepaskan. Kita semua kan pengen percaya kalau semesta punya rencana, bahkan saat suatu hubungan pudar begitu saja tanpa alasan jelas.

Dari Sisi Psikologi, Ini yang Terjadi

Nah, kalau mau ditarik ke logika, sebenarnya otak kita ini memang didesain buat nyari pola dan penjelasan atas segala sesuatu. Ini yang disebut apophenia kecenderungan buat ngeliat "hubungan" di antara kejadian-kejadian yang sebenarnya nggak berhubungan sama sekali. Ditambah lagi ada yang namanya Zeigarnik effect, di mana hal-hal yang berakhir tanpa penyelesaian justru lebih nempel di ingatan kita, jadi terasa lebih berarti dari yang sebenarnya. Belum lagi ada confirmation bias yang kita cuma inget kasus-kasus yang cocok sama teori ini, sementara momen-momen dimana kita justru ketemu lagi sama orang lama malah kelupaan.

Intinya, teori ini semacam mekanisme buat bikin kita lebih tenang ngadepin perpisahan yang nggak ada penjelasannya. Daripada mikir "kok bisa dia ngilang gitu aja," kita jadi punya cerita yang lebih masuk akal buat diri sendiri.

Buat yang Percaya Hal-Hal Spiritual

Disisi lain, ada juga yang ngeliat ini dari kacamata spiritual — soal soul contract atau perjanjian jiwa sebelum lahir, di mana kita "udah janjian" bakal ketemu orang-orang tertentu buat belajar sesuatu bareng. Begitu pelajarannya kelar, hubungan itu pun otomatis selesai dan masing-masing lanjut ke babak hidupnya sendiri-sendiri.

Mau percaya versi psikologi atau versi spiritual, dua-duanya sama-sama ngajarin satu hal: nggak semua hubungan memang ditakdirkan buat bertahan selamanya, dan itu sesuatu yang wajar aja kok, Biemers.

Cara Ikhlasin Kalau Emang Sudah "Pertemuan Terakhir"

Buat Biemers yang lagi struggle sama perasaan ini, coba deh beberapa hal ini:

  1. Terima aja kenyataannya. Denial cuma bikin kita nyangkut di masa lalu terus.

  2. Kasih diri sendiri waktu buat sedih. Nggak apa-apa kok kalau butuh nangis atau curhat dulu.

  3. Fokus ke diri sendiri. Coba hobi baru, urus diri sendiri, atau bikin goal baru.

  4. Jangan romantisme masa lalu. Inget lagi kenapa hubungan itu berakhir, jangan cuma inget yang manis-manisnya doang.

  5. Ubah sudut pandang jadi pelajaran. Daripada nganggep itu kegagalan, anggap aja itu proses belajar buat jadi versi diri yang lebih baik.

  6. Buka diri buat hal baru. Kasih ruang buat pertemanan atau hubungan baru masuk ke hidup kalian.

  7. Jangan sendirian, cari support system. Cerita ke orang-orang terdekat yang bisa dukung kalian.

Melepaskan bukan berarti melupakan, Biemers. Itu cuma cara kita berdamai sama kenyataan kalau memang ada orang-orang yang perannya di hidup kita sudah selesai. 

Jadi, jangan sia siakan pertemuan kalian dengan orang orang yang kita kasihi karena kita tidak tahu kapan pertemuan terakhir kita.

Sumber : 


(Writer - Jason Gordon)

 
 
 

Comments


bottom of page