Rinduku Sederas Hujan di Bulan November
- Percee Magz

- Jan 26
- 1 min read
Tik tik tik. Rintik hujan terus turun, membasahi lingkungan kampus yang sedang kupijak. Angin terasa sejuk, namun masih kalah sejuk dengan perasaan hampa saat kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi — kehilangan peluk, tawa, tempat aman & nyaman, tempat berpulang.
Aku termenung memandang orang berlalu lalang, menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Sedang aku, duniaku terasa berhenti tepat setahun yang lalu. Ramai — keadaan tempat ini sangat penuh dengan orang-orang berteduh, namun dirasa-rasa, hatiku sepertinya jauh lebih penuh.
Ingin rasanya beranjak menuju tempat favorit kita berdua, namun kaki ini seperti mati rasa, seluruh tenagaku lenyap terbawa pergi bersama orang yang sudah menjadi separuh jiwaku.
“Papa yakin kamu bakal jadi orang sukses.”
“Anak papa emang paling hebat!”
“Papa sayang banget sama anak satu-satunya papa.”
“Kalo ada yang jahatin kamu, papa bakal maju paling depan, belain anak kesayangan papa.”
Suara-suara itu terus memenuhi isi kepala ini, dengan iringan tangisan yang sederas hujan sore ini. Apakah rintik hujan ini berasal dari rasa sedih papa di atas sana, merasakan perasaan yang sama denganku?
Apakah wajar jika kita mempertanyakan takdir yang kita rasa sangat mengenaskan? Duka ini tak seharusnya kurasakan di waktu secepat ini. Dunia terus memberiku tragedi menyakitkan tanpa memerhatikan keadaan diri ini, semua terjadi berturut-turut tanpa henti — sama seperti hujan yang turun di bulan November tanpa henti.
Penulis : Aurora R.A
Editor : Mariyo Sadewo
| Journal Is Me




Comments